Sabtu, 30 Mei 2026

Tafsir

 Katamu, aku keliru.

Perihal tafsir mendung hatimu,

Atau gemuruh yang selalu tempias dalam sajakmu.

 

Katamu, aku keliru.

Perihal tafsir yang menyesatkan,

Arti-arti tidak semestinya.

 

Katamu, aku keliru.

Perihal apa yang kulihat,

Tentang apa-apa, yang tidak seharusnya.

 

2026

Penyusup

 

Saat itu,

Cinta tumbuh diam-diam di antara kita,

Ia menyelinap lewat pesan-pesan canda yang kubaca,

Menyusup ke ruang pertahananku

Tersungkur tersandung menyukaimu.

 

2026

Luka

  

Semenjak kau pergi,

Kurasa ada luka terbuka,

Ia menganga,

Entah sampai bila.

Adakah obatnya?

 

2026

Kehilangan

Bagiku,

Kehilangan perihal kita,

Sebab sudah tak ada satu pun kata.

 

Bagimu,

Kehilangan tak pernah ada,

Sebab kita tak pernah nyata.

 

2026


Kau Benar

 Kau benar,

Kita terlalu serius dalam permainan.

Kuralat; Aku terlalu serius dalam permainan.

Sedang kau?

 

Telalu jahat kusebut harap,

Jika ini hanya sepihak.

Terlalu bodoh kusebut cinta,

Jika hanya sebelah mata.

 

Aduh!

Kau tak selalu benar,

Kita tak benar-benar serius dalam apa pun.

 

 

2026

Lelaki Palsu Ji Ki Ternyata

 Kepada: R. 


Tak ada bahasa Makassar di sajak ini.

Tidak, hanya judulnya saja.

 

Lelaki Palsu Ji Ki Ternyata”

Kataku.

Balasmu? Tak ada.

 

2026

Sejak Awal Ia Tak Mau

 Sejak awal ia tak mau,

Kau terlalu keras kepala perihal ia,

Penuh cinta sebatang kara,

Sedang ia menutup mata.

 

Sejak awal ia tak mau,

Kau terlalu bangkang perihal rindu,

Sedikit sendu berujung pilu,

Sedang ia tak mau tahu.

 

Sejak awal ia tak mau,

Kau terlalu yakin cinta sendiri,

Kenyang ilusi setiap hari,

Sedang ia tidak peduli.

 

2026

Rabu, 13 Mei 2026

Tak Ada Lagi Kelanjutannya

Sajak-sajakmu basi!

Terlalu cupu kusebut laki.

Takut lebih mudah dari mencoba,

Apa-apa di depan ada pula andil kita.

 

Cerpenmu terlalu pahit!

Segala kemunginan kau persulit.

Seolah menjadi kita sangatlah rumit,

Hanya jiwamu terlalu sempit.

 

Cukup,

Semua selesai tanpa dimulai.

 

2026


Rindu

 

Demi air mata,

Yang berlinang sebab rinduku,

Tidaklah mudah ciptakan lupa,

Pada ingatan indah di kepala;

Kita.

 

Bahasa bisumu membunuhku,

Luka tak mampu kuperban,

Ia mengalir ke mana-mana.

 

Sudikah kau jabat harap?

Pada episode pertemuan entah kapan-kapan.

 

2026

Kita

 Seumpama daun, aku lah yang diam-diam mendamba bulir hujan menerpa tubuhku dengan lembut itu. Meski disapu angin penuh cemburu, aku tak peduli. Ingatanku lebih kuat daripada ingatan ikan, bagaimana kau membelai penuh cinta. Biar saja gemuruh dengan riuhnya, bising pada kepalanya sendiri. sejak awal, kisah kita tak pernah masuk akal.

 

2026


Penyihir-penyihiran

 


Kau sudah tak asing tentang ramuanku,

Perihal sihir, juga mantra;

Hanya kita berdua yang tahu.

 

Entah kau menerka,

Cenderung sok tahu.

Apa-apa di kepalamu sembarangan tanpa tuju,

Ini itu tak berdasar,

Tak percaya meski kuucap benar.

 

Aku hanya seorang penyihir,

Buruk rupa berhati kotor,

Namun katamu lain,

“Tak ada juga penyihir yang elok, sepertimu!”

 

Aku ini penyihir,

Mana lah sama dengan wanita yang pernah kau rayu,

Bualanmu semacam mantra yang mengejek,

Mencoba menangkis sihirku;

“Kita mulai permainannya.”

 

2026

Bicara lah!

  

Kurasa, tak perlu lah kau repot begitu!

Pelintir kata, ciptakan sajak romansa.

Mengulik nada, lantunkan lagu asmara.

Tidak perlu, sayangku!

 

Kurasa, tak perlu lah kau repot begitu!

Angkat saja teleponnya, lalu bicara!

 

2026.

Kelabu

 

Hujan turun,

Lebat dan gemuruh,

Di dadaku.

 

Kau lihat?

Tempiasnya mengalir,

Dari sudut mataku,

Yang sendu mengagumimu.

 

2026.